Media Komersial vs Media Komunitas dan Literasi Digital



Media Komersial
Berbicara mengenai media, penting bagi kita untuk mengetahui bentuk kepemilikan  media dan sumber dananya. Menurut Astchull (1984), isi media selalu merefleksikan kepentingan pemilik modal. Pada umumnya sumber dana media berasal dari individu atau kelompok penanam modal, konsumen, pengiklan, pemberi bantuan, maupun pemerintah. Sumber dana itu sendiri bergantung pada bentuk kepemilikan medianya. Terdapat 3 kategori kepemilikan media yaitu perusahaan komersial, privat non-laba, dan publik. 

Menurut KBBI, komersial dapat diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan niaga atau perdagangan (profit oriented). Oleh sebab itu, media komersial pada dasarnya lebih mengutamakan keuntungan. Segala pemberitaan melalui media komersial akan lebih mempertimbangkan keuntungan atau profit yang diperoleh melalui pemberitaan daripada dampak social pemberitaan itu sendiri. (Rizki, 2016) Salah satu pemanfaatan media komersial adalah untuk memasang iklan komersial. Membuat sebuah iklan komersial pun harus memenuhi beberapa kriteria, antaralain :
1.      Mengandung sebuah daya tarik
2.      Memunculkan keinginan masyarakat untuk membelinya
3.      Mengarah pada tindakan proses jual beli

Iklan Shampoo Pantene
            Iklan shampoo ini mempromosikan produknya dengan sangat menarik. Mereka menarik perhatian konsumen dengan sebuah kisah menyentuh mengenai seorang anak yang tidak bisa berbicara namun memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang seni.

Media Komunitas
Berbeda dengan media komersial, media komunitas tidak berorientasi pada keuntungan. Komunitas sendiri memiliki arti kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu, masyarakat, paguyuban. (KBBI, 2017) Media komunitas biasanya dibagi secara cuma-cuma kepada warga komunitas yang diwakili. Dana yang digunakan untuk penerbitan pun dihimpun dari iuran-iuran dan dana sumbangan. Lazimnya media komunitas ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas yang terbatas hingga lahir manfaat yang lebih bagi para pembaca dan penerbitnya. Emosi pembaca menjadi bagian dari media komunitas, baik yang terikat maupun yang hanya sekedar membaca. Oleh sebab itu, media komunitas harus berupaya membangkitkan emosi pembaca. Tarif yang digunakan tidak lebih besar jika dibandingkan dengan memasang iklan di media komersial. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh media komunitas ini tidak berbeda jauh dari media komersial, hanya saja jangkauan media komunitas lebih terbatas. Salah satu contoh penggunaan media komunitas dilakukan oleh Bandung Advertiser.






Media Komersial, Media Komunitas, dan Literasi Digital
            Kedua media di atas dapat menjadi sarana dalam mengembangkan literasi digital. Melalui media komersial, seseorang dapat merealisasikan pemahamannya mengenai kemampuan membuat informasi menggunakan hardware atau software tertentu untuk menarik perhatian konsumen dan memperoleh keuntungan (jual beli). Dalam hal ini, dapat dilihat 2 komponen literasi digital. Pemahaman yang baik akan penggunaan media untuk keperluan komersial maupun komunitas ini juga mencerminkan bahwa seseorang punya pemahaman yang baik mengenai teknologi informasi. Berbeda dengan media komersial, media komunitas memanfaatkan teknologi informasi dan membuat informasi tidak untuk mencari keuntungan. Media komunitas biasanya menjadi sarana untuk menyalurkan hobi seseorang melalui komunitas yang diikutinya. Komunitas sendiri menjadi salah satu jalur pengembangan literasi digital selain sekolah.
            Pada dasarnya keduanya, baik media komersial maupun media komunitas menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan media digital baik mengakses, memahami konten, membuat konten, bahkan menyebarluaskan konten.


SUMBER :
Wati, J. 2016. Kepemilikan Media dan Ideologi Pemberitaan. Yogyakarta: Deepublish

http://iklanjawapos.com/iklan-komersial-fungsi-dan-beberapa-contohnya

Komentar

Postingan Populer